TRIBUNJAKARTA.COM - Anak yang terlihat sehat, ceria, aktif, dan memiliki tubuh berisi belum tentu terbebas dari risiko stunting.

Kondisi tersebut tidak bisa hanya dinilai berdasarkan penampilan fisik anak.

Dokter Spesialis Anak, Dhika Claresta S.pA mengatakan, stunting perlu diketahui melalui pengukuran pertumbuhan anak, terutama dengan memantau tinggi dan berat badan berdasarkan kurva pertumbuhan.

Menurutnya, orang tua perlu memperhatikan kecepatan pertumbuhan atau growth velocity anak.

Sebab, anak yang tampak sehat secara kasatmata tetap bisa mengalami gangguan pertumbuhan apabila tinggi dan berat badannya tidak bertambah sesuai usianya.

"Kalau stunting itu kan kita gak bisa langsung melihat dari keliatannya aja," kata Dhika dalam wawancara bersama TribunJakarta.com.

"Misalnya kayak ini anaknya gemes, pipinya tembem, tangannya tembem. Tapi ternyata saat kita ukur tinggi badan dan berat badannya itu ternyata dianggap sebagai stunting," lanjutnya.

Berat Badan Anak Tak Naik Bisa Jadi Tanda Awal

Dhika menjelaskan, salah satu tanda yang perlu diperhatikan orang tua adalah berat badan anak yang tidak mengalami kenaikan atau weight faltering.

Menurut dia, berat badan berkaitan dengan kondisi malnutrisi akut pada anak.

Sementara itu, tinggi badan berdasarkan usia digunakan untuk melihat apakah seorang anak mengalami stunting.

"Kalau misalnya dia sudah mulai melandai dan misalnya berat badannya udah gak naik nih tiga bulan, pasti dia dengan otomatis itu nanti tinggi badan perusianya dia juga akan turun melandai karena dia juga tidak ikut naik," ujarnya.

Dhika mengatakan, kondisi tersebut perlu segera dievaluasi, terutama apabila berat badan anak tidak mengalami kenaikan selama beberapa bulan.

"Kalau misalnya berat badannya udah gak naik, cari tahu kenapa berat badannya gak naik," katanya.

Orang tua, lanjut dia, perlu mencari tahu penyebabnya melalui evaluasi pola makan, aktivitas, lingkungan, hingga kemungkinan adanya penyakit tertentu.

"Misalnya kayak penyakit kondisi tuberkulosis atau infeksi saluran kemih jangan-jangan. Makanya berat badannya naik gak pernah diterapi, jadinya gak naik-naik berat badannya bisa gitu," jelas Dhika.

Anak Aktif dan Ceria Belum Tentu Bebas Stunting
Dhika menegaskan, kondisi anak yang aktif dan ceria tidak dapat menjadi satu-satunya patokan untuk memastikan anak tumbuh dengan baik.

Orang tua tetap perlu melakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin.

"Jadi untuk mengetahui apakah anak ini stunting bukan dari keliatannya dia gak ceria-ceria aja, tapi ternyata ngelihat dari growth velocity-nya," tuturnya.

Ia menjelaskan, apabila pertumbuhan tinggi badan anak mulai tidak mengalami peningkatan, kondisi tersebut perlu dievaluasi.

"Kalau tinggi badannya ini gak tumbuh, berarti ada sesuatu yang harus dievaluasi biasanya," imbuhnya.

Dalam menentukan stunting, dokter juga melihat tinggi badan berdasarkan usia.

Apabila hasil pengukuran berada di bawah standar pertumbuhan, termasuk di bawah minus dua standar deviasi, anak dapat dikategorikan mengalami stunting.

"Kalau memang dari hal ini, kalau dia terus-terusan weight faltering, berat badannya itu terus-terusan gak naik, nanti lama-lama dia akan menjadi tidak tinggi jadinya pendek, jadi akan menjadi stunting," kata Dhika.

Ia menyebut stunting sebagai kondisi perawakan pendek yang berkaitan dengan malnutrisi kronis.

"Definisi stunting itu sendiri adalah terjadinya perawakan yang pendek yang disebabkan malnutrisi yang kronis," jelasnya.

Protein Hewani Harus Sesuai Kebutuhan Anak

Selain memantau pertumbuhan, asupan makanan juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan orang tua.

Dhika mengatakan, pemberian protein hewani saja belum otomatis membuat anak terbebas dari risiko stunting.

Orang tua perlu memastikan jumlah protein yang dikonsumsi anak memang sudah mencukupi kebutuhannya.

"Kalau misalnya dia sudah protein hewani, kita harus tahu dulu protein hewaninya sudah tercukupi atau belum," ujar Dhika.

Ia mencontohkan, kebutuhan protein anak perlu disesuaikan dengan usia dan jumlah asupan hariannya.

Menurut Dhika, asupan protein berperan dalam proses pertumbuhan dan pembentukan jaringan tubuh anak.

Karena itu, orang tua perlu mengevaluasi kembali pola makan anak, termasuk porsi lauk yang dikonsumsi.

"Jadi kalau misalnya kuncinya protein hewani, protein hewani kuncinya. Sebetulnya itu yang dibutuhkan untuk menumbuhkan si tulang itu," katanya.

Dhika juga mengingatkan orang tua agar tidak hanya melihat apakah anak mendapatkan lauk hewani atau tidak.

Jumlah yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan.

"Jadi kalau ditanya udah banyak nih padahal protein hewaninya, seberapa banyak? Harus ditanya dulu ke orang tuanya," ucapnya.

Faktor Genetik Juga Berpengaruh pada Tinggi Badan Anak

Di sisi lain, tinggi badan anak juga dipengaruhi oleh faktor genetik.

Dhika menjelaskan, terdapat perhitungan mengenai tinggi potensi genetik yang dapat digunakan untuk memperkirakan rentang tinggi badan anak berdasarkan tinggi badan kedua orang tuanya.

"Jadi pada anak itu dari tinggi badan ibunya dan tinggi badan ayahnya itu bisa dihitung berapa sih potensi genetik dia," jelasnya.

Namun, faktor genetik bukan satu-satunya penentu tinggi badan anak.

Menurut Dhika, nutrisi dan lingkungan juga memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan.

"Jadi sehingga nutrisi itu penting karena tinggi badan itu dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan nutrisi juga bukan hanya genetik," katanya.

Ia menambahkan, anak dengan orang tua yang memiliki tubuh relatif pendek tetap dapat tumbuh dengan baik selama pertumbuhan dan kebutuhan nutrisinya terpenuhi.

"Kalau memang genetiknya dia tinggi gitu tapi faktor lingkungan dan nutrisi dia memadai gak akan mencapai juga tinggi potensi genetiknya," ujarnya.

Karena itu, tubuh anak yang tidak terlalu gemuk atau memiliki postur yang tidak besar juga belum tentu menunjukkan adanya masalah pertumbuhan.

Selama berat dan tinggi badan anak bertambah sesuai kurva pertumbuhan, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa pertumbuhannya berjalan baik.

Makan Sambil Main Gadget Bisa Ganggu Pola Makan Anak

Selain faktor nutrisi, pola asuh dan kebiasaan saat makan juga perlu menjadi perhatian orang tua.

Dhika menyoroti kebiasaan anak makan sambil menonton televisi atau menggunakan gadget.

Menurutnya, distraksi saat makan dapat membuat anak tidak fokus terhadap makanan dan akhirnya tidak menghabiskan makanan yang diberikan.

"Anak itu harus makan dalam 30 menit tanpa ada distraksi dengan pemberian nutrisi yang sesuai," kata Dhika.

Ia menjelaskan, anak membutuhkan rasa lapar untuk mendorongnya makan.

Ketika perhatian anak teralihkan oleh layar, anak bisa menjadi kurang menyadari rasa lapar sehingga proses makannya tidak optimal.

"Karena yang kita perlu adalah rasa lapar. Kalau dia terdistraksi, gak ngerasa lapar jadinya gak makan yang selesai," tuturnya.

Dhika pun mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan gadget sebagai alat untuk membuat anak mau makan.

Menurutnya, orang tua sebaiknya menerapkan aturan makan yang tepat dan memastikan anak fokus selama waktu makan.

Selain itu, pola makan anak juga perlu diperhatikan, termasuk pemberian makan utama dan makanan selingan.

"Kalau menurut feeding rules itu kan dia harus tiga kali makan dengan dua kali selingan," ujar Dhika.

Dengan pemantauan berat dan tinggi badan secara rutin, evaluasi pola makan, serta penerapan pola asuh yang tepat, gangguan pertumbuhan pada anak diharapkan dapat diketahui lebih dini.

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.