Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon berharap sosok dan perjalanan maestro seni rupa Indonesia Nasirun dapat menginspirasi lahirnya “Nasirun-Nasirun” baru dari generasi muda melalui proses pewarisan pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai dalam berkesenian.


Harapan tersebut disampaikan Fadli saat membuka pameran “Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu, digelar untuk mengenang Nasirun yang berpulang pada 1 Agustus 2026.



“Mudah-mudahan akan tumbuh Nasirun-Nasirun baru. Karena beliau juga orang yang sangat berdedikasi untuk membagikan pengalamannya, ilmunya kepada generasi muda,” kata Fadli.


Menurut Menbud, Nasirun tidak hanya dikenal melalui pencapaian estetika dan artistiknya, tetapi juga melalui dedikasinya dalam membagikan pengetahuan kepada generasi muda.






Ia mencontohkan keterlibatan Nasirun sebagai guru dalam program Belajar Bersama Maestro yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan pada 2025.



Dalam program tersebut, sebanyak 10 siswa yang terpilih melalui audisi tinggal di tempat Nasirun untuk belajar bersama sang maestro sekaligus menghasilkan karya.


“Jadi ada 10 orang siswa yang terpilih melalui audisi dan tinggal di tempat Mas Nasirun, kemudian belajar bersama Nasirun, tinggal bersama Nasirun dan juga melahirkan karya-karya,” ujar Fadli.


Menbud menilai pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para perupa muda untuk mengembangkan karya dengan kedalaman yang mereka miliki.






Pameran “Bersimpuh di Kaki Para Guru” juga memperlihatkan sisi lain dari perjalanan artistik Nasirun, yakni penghormatannya terhadap para guru.


Pameran mempertemukan karya Nasirun dengan karya sejumlah seniman yang disebut sebagai gurunya, termasuk Abas Alibasyah, Affandi, Ahmad Sadali, Amang Rachman Jubair, Amri Yahya, Bagong Kussudiardja, Djoko Pekik, Edhi Soenarso, Fadjar Sidik, Harijadi Sumadidjaja, Hendra Gunawan, Jeihan Sukmantoro, Kusnadi, Oesman Effendi, S. Sudjojono, Widayat, dan Zaini.



Fadli mengatakan dirinya mengenal Nasirun sejak belasan tahun lalu dan mengetahui bagaimana Nasirun selalu menghormati para gurunya. Bahkan, Nasirun membuat museum di seberang rumahnya yang berisi karya-karya para guru tersebut.


“Dan beliau membuat juga museum yang isinya adalah karya-karya para gurunya di seberang rumahnya,” kata Fadli.


Ia mengatakan pameran tersebut menunjukkan bagaimana Nasirun mengolah tradisi, budaya, spiritualitas, realitas kehidupan sehari-hari, dan modernitas ke dalam karya melalui berbagai medium, baik dua dimensi maupun tiga dimensi.






Bagi Fadli, praktik tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perkembangan seni rupa Indonesia tidak terlepas dari proses belajar, menafsirkan, dan meneruskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Adapun pameran “Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru” berlangsung pada 13 September hingga 11 Oktober 2026.


Menbud juga mengumumkan pameran tersebut menjadi pameran terakhir sebelum Galeri Nasional Indonesia direvitalisasi.