TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada Senin 27 Juli 2026 diprediksi akan  dipengaruhi oleh lima sentimen utama di pasar keuangan.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengatakan, pergerakan rupiah pada Senin esok akan dipengaruhi oleh lima faktor. 

Pertama, respons pasar menjelang keputusan suku bunga The Fed pada 29 Juli mendatang. Kedua, dinamika harga minyak Brent di kisaran US$ 100 per barel berisiko memperbesar beban devisa impor serta inflasi.

Faktor ketiga berkaitan dengan dampak kebijakan tarif baru AS terhadap arus modal safe haven. Keempat, prospek arus modal asing pada instrumen SRBI, SBN, dan saham.

Kelima, tingkat efektivitas intervensi berkelanjutan BI di pasar valas.

Syafruddin menyebutkan bahwa posisi rupiah berpeluang bertahan di bawah level psikologis Rp 18.000 per dolar AS jika pasokan valas domestik tetap terjaga.

"Rupiah berpeluang bertahan di bawah 18.000 jika dukungan BI dan arus masuk portofolio mampu mengimbangi penguatan dolar," ujar Syafruddin dikutip Kontan, Minggu, 26 Juli 2026. 

Karena itu, pergerakan nilai tukar rupiah berpotensi berkonsolidasi di tengah dinamika tekanan sentimen eksternal dan keberadaan benteng penyangga ekonomi domestik. 

Untuk proyeksi perdagangan Senin (27/7/2026), Syafruddin memperkirakan nilai tukar USD/IDR berada di kisaran realistis Rp 17.870–Rp 18.000 per dolar AS. 

Baca juga: Lonjakan Harga Minyak dan Defisit Neraca Dagang RI Pukul Rupiah, Melemah di Rp 17.963

Model estimasi tidak menemukan momentum arah yang dominan, sehingga pergerakan harga berpotensi masuk ke fase konsolidasi. Namun, batas Rp 18.000 tetap rawan teruji apabila harga minyak dan yield obligasi AS kembali melonjak tinggi. 

"Rentang risiko yang lebih lebar berada pada 17.835–18.035, terutama karena perdagangan Senin membawa risiko gap setelah akhir pekan," kata Syafruddin.

Mengutip data Bloomberg pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026, rupiah spot ditutup menguat di level Rp 17.963 per dolar AS.

Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah di posisi Rp 17.973 per dolar AS. Sejumlah katalis global dan upaya penstabilan domestik diperkirakan menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang Garuda pada awal pekan.

Baca juga: Sore Ini Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.936, Ada Sentimen Efisiensi Anggaran

Menurut Syafruddin Karimi, pergerakan rupiah pada Jumat kemarin terutama digerakkan oleh tarik-menarik antara tekanan global dan penyangga domestik. 

Dolar AS tetap kuat dengan indeks DXY di sekitar 101,4 seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sementara lonjakan harga minyak menuju US$ 100 per barel menekan mata uang negara pengimpor energi.

Eskalasi konflik Timur Tengah serta kebijakan tarif baru Amerika Serikat turut memperburuk sentimen risiko terhadap aset negara berkembang.

Tekanan tersebut sempat membuat mata uang Garuda melemah sebelum akhirnya membaik seiring hadirnya intervensi dan bauran kebijakan Bank Indonesia (BI).

Syafruddin menilai dukungan kuat hadir dari keputusan BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, intervensi di pasar spot, NDF, dan DNDF, serta daya tarik imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Pelemahan rupiah hari ini lebih mencerminkan tekanan dolar, minyak, dan sentimen risk-off global daripada perubahan tajam pada fundamental domestik," kata Syafruddin.

Laporan Reporter: Muhammad Fatih | Sumber: Kontan

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.